
Judul : Saga No Gabai Bachan (Nenek Hebat dari Saga)
Penulis : Yosichi Shimada
Koord. Penerjemah : Mikihiro Moriyama
Penerjemah : Indah S. Pratidina
Penerbit : Kansha Books
Cetakan : I, April 2011
Tebal : 245 hlm
“Kebahagiaan
itu bukanlah sesuatu yang ditentukan oleh uang. Kebahagiaan itu adalah
sesuatu yang ditentukan oleh diri kita sendiri, oleh hati kita.”
Demikianlah kira-kira inti dari buku ini. Buku kecil yang bersahaja ini merupakan kisah
nyata dari penggalan kehidupan penulisnya, Akihiro Tokunaga atau kini
dikenal dengan nama Yosichi Shimada (61 thn) selama ia tinggal bersama
neneknya di kota kecil Saga setelah Hiroshima dijatuhi bom atom oleh sekutu.
Paska
pemboman Hiroshima dan Nagasaki perekonomian Jepang hancur , sehingga
dampaknya secara langsung juga dirasakan oleh sebagian besar rakyatnya. Hal
ini juga dirasakan oleh keluarga Tokunaga, apalagi tak lama setelah
Tokunaga lahir ayahnya yang merupakan tulang punggung keluarga meninggal
dunia akibat terpapar radiasi bom atom. Karena merasa
tak sanggup untuk membesarkan dan menyekolahkan anaknya di Hiroshima
maka oleh ibunya Tokunaga dititipkan pada neneknya di kota Saga.
Berbeda dengan Hiroshima yang merupakan sebuah kota besar di Jepang, Saga adalah sebuah kota kecil yang jauh dari keramaian. Kehidupan Tokunaga di Hiroshima memang sulit, kepindahannya ke Saga tidak membuat hidupnya menjadi nyaman, bersama neneknya ia malah harus
hidup lebih miskin lagi dibanding ketika ia bersama ibunya di
Hiroshima. Secara materi memang Tokunaga menjadi semakin miskin namun
sikap hidup, pandangan, dan perilaku neneknya yang bersahaja ternyata membuat hidupnya menjadi kaya akan berbagai pengalaman hidup yang kelak akan membuatnya kaya dan bahagia secara batiniah.
Kehidupan Tokunaga bersama neneknya memang sangat-sangat sederhana bahkan bisa dikatakan sangat miskin. Neneknya
hanyalah seorang petugas kebersihan di sebuah universitas di Saga. Jadi
untuk memenuhi kebutuhan sehari-harinya nenek Osana hanya mengandalkan
gajinya yang kecil dan uang bulanan kiriman anaknya yang pas-pasan.
Namun walau hidup miskin bukan berarti Nenek Osana menyerah pada keadaan dan menjadi nenek yang murung. Bersama Tokunaga ia menjalani hidupnya secara optimis, wajahnya selalu berseri karena bagi dia kebahagiaan bukan
ditentukan oleh uang, melainkan dari hati. Nenek Osana menerima
kenyataan hidup bahwa ia hidup dalam kemiskininan, tapi ia tak mau
bersedih dengan keadaannya. Dalam sebuah kesempatan Nenek Osano
mengatakan pada Tokunaga bahwa ada dua jenis orang miskin yaitu miskin muram dan miskin ceria.
“Ada dua jalan buat orang miskin. Miskin muram dan miskin ceria. Kita ini miskin yang ceria. Selain
itu karena bukan baru-baru ini saja menjadi miskin, kita tidak perlu
cemas. Tetaplah percaya diri. Keluarga kita memang turun-temurun
miskin.”
Demikianlah
kehidupan Nenek Osano, walau hidup miskin tapi dia tidak pernah
membiarkan dirinya dikalahkan keadaan melainkan selalu tampak bahagia
Untuk menyiasati hidupnya yang serba kekurangan Nenek Osano memanfaatkan semua yang ada di sekitarnya. Ketika
berangkat kerja Nenek Osano tanpa malu sengaja mengikatkan sebuah tali
di pinggangnya dimana di ujungnya terdapat sebuah magnet yang menyapu
tiap jalan yang dilaluinya. Dengan cara itu ia mendapat paku atau sampah
logam yang berserakan di jalan untuk dikumpulkan dan dijual kembali. Ketika Tokunaga menanyakan hal ini pada neneknya, Neneknya menjawab dengan lugas.
“Sungguh sayang kalau kita sekedar berjalan. Padahal kalau kita berjalan sambil menarik magnet, lihat, begini
menguntungkannya, kalau kita jual, sampah logam lumayan tinggi
harganya. Benda yang jatuh pun kalau kita sia-siakan, bisa dapat tulah.”
(hal 42)
Sedangkan untuk memenuhi
kebutuhan makanan tiap harinya nenek memanfaatkan sungai yang mengalir
di depan rumahnya. Setiap hari ia mengumpulkan ranting2 yang terseret
arus sungai, ranting-ranting itu kemudian dijemur dan dijadikan kayu bakar. Selain
itu sungai itu pula selalu membawa sayur-sayuran dan buah-buahan yang
dibuang penjualnya karena tidak laku. Sayur-sayuran dan buah-buahan itu
diambil oleh Nenek Osana, dicuci dan dimasak. Dengan begitu sebagaian
besar makanan yang ada di rumah Nenek merupakan hasil perolehan dari
sungai. Dengan bercanda Nenek
Osana menyebut sungai tersebut sebagai supermarket dengan pelayanan
ekstra karena langsung diantar ke rumahnya tanpa biaya.
Jenis
sayur dan buah-buahan yg mengalir di sungai tak selalu sama, karenanya
alih-alih melihat buku resep untuk mencari ide lauk santapan, Nenek akan
menengok ke sungai dan berkata “Hari ini lauknya apa ya?”. Kemudian
barulah ia menentukan menu. Namun
demikian kadang sungai itu tak mengalirkan apapun selain
ranting-ranting, jika demikian Nenek Osana tetap optimis dan mengatakan
bahwa “Hari ini supermarket libur”.
Bagi
Nenek Osana kehidupan yang dialaminya adalah anugerah yang harus
dijalaninya dan tanpa ragu ia berkata bahwa “Hidup itu selalu menarik.
Daripada hanya pasrah, selalu coba cari jalan”
Walau
hidup miskin Nenek Osana juga selalu berusaha berbuat kebaikan tanpa
harus digembar-gemborkan atau diketahui oleh si penerima kebaikan karena
baginya “ Kebaikan sejati dan tulus adalah kebaikan yang dilakukan tanpa diketahui orang yang menerima kebaikan.
Hal-hal seperti inilah yang dilihat dan dialami oleh Tokunaga selama ia tinggal bersama neneknya. Bagi Tokunaga ini
adalah kesempatan berharga dimana dia bisa memiliki pengalaman yang
luar biasa untuk menjalani hari-hari bersama neneknya yang sangat
menyenangkan walau kemiskinan membelit hidup mereka.
Pengalaman hidup Tokunaga bersama nenek Osana ini juga membuat dirinya tergerak untuk menuliskannya dalam sebuah buku agar semua orang tahu tentang cara hidup dan pangangan hidup neneknya. Dalam bukunya ini Tokunaga menulis kisah
kehidupan yang dialaminya selama ia tinggal bersama neneknya semenjak
SD hingga SMA. Ada 17 kisah menarik dan inspiratif dalam buku ini mulai
dari kisah perjalanan pertamanya ke Saga hingga akhirnya ia lulus SMA
dan harus memilih antara tinggal bersama neneknya di Saga atau mengejar
mimpi-mimpinya di Hiroshima.
Sebagai bonus
di lembar-lembar terakhir, buku ini juga menyertakan kutipan-kutipan
Nenek Osana yang berasal dari isi buku ini. Halaman ini oleh penerbit
diberi judul "Tips Hidup yang Menyenangkan dari Nenek yang membesarkan
Yosichi Shimada : Nenek Osano!"
Sama seperti kesederhanaan nenek Osana , kesemua
kisahnya ini ditulis dalam kalimat-kalimat yang sederhana dan mudah
dipahami oleh siapa saja sehingga buku ini memiliki tingkat keterbacaan
yang tinggi sekaligus membuat kita tersenyum, terenyuh, dan
yang pasti kisahnya yang inspiratif ini dapat memberi makna yang dalam
bagi pembacanya dalam hal memaknai nilai-nilai kesederhanaan.
Buku
Saga no Gabai Bachan ini terbit untuk pertama kalinya di Jepang pada
tahun 2001. Kemudian penulisnya juga mengadakan pertunjukkan drama
dengan tema pandangan hidup Nenek Osana di seluruh Jepang. Dengan
demikian buku ini menjadi semakin terkenal, apalagi dengan kemunculan
penulisnya di Asahi TV dlm progam “Tetsuka no Heya” (Kamar Tetsuko) yg dipandu oleh Testuko Kuroyanagi (penulis Toto Chan: Gadis Cilik di Jendela)
Setelah
mengenalkan buku Saga no Gabai Bachan di acara Tetsuko no Heya pesanan
buku ini di toko-toko buku langsung membludak sehingga kurang dari satu
tahun buku ini telah terjual 100.000 eks di Jepang. Bahkan kini kisah Nenek Hebat dari Saga ini diadaptasi dalam bentuk film layar lebar, game, maupun manga.
Poster Film Saga no Gabai Bachan
Di
Indonesia sendiri buku ini yang diterjemahkan langsung dari Bahasa
Jepang oleh Indah S. Pratidina dan dimentori oleh Prof. Mikihiro
Moriyama (profesor pada bidang kajian Indonesia di Departemen Asian, Fakultas Studi Luar Negeri, Universitas Nanzan, Jepang) terbit
pada bulan April 2011 ini kabarnya mendapat respon yang positif dari
pembacanya, hal ini terbukti dengan dilakukannya cetak ulang novel ini
pada Mei 2011, tepat satu bulan setelah cetakan pertama buku ini terbit.
“Novel
ini seru, kaya nuansa (bikin terenyuh. Lucu, mengharukan), mampu
mengaduk-ngaduk emsoi pembaca dan yang pasti akan membangkitkan
kebahagiaan




0 komentar:
Posting Komentar