Pages

Senin, 12 November 2012

I WANNA BE A...


 1
    Minggu siang itu tampak lebih cerah dari hari-hari sebelumnya. Burung-burung kecil asyik bermain mengepakkan sayap kecilnya. Sinar matahari yang menyinari siang itu amatlah pekat. Dibawah pohon mangga rindang itu terlihat seorang nenek berumur sekitar 65tahunan dengan tampak rambut putih dikepalanya sedang mencabuti rumput liar yang tumbuh dibawahnya. Bermodalkan gunting rumput, nenek itu terus mencabuti rumput segar yang mengganggu pertumbuhan pohon mangga miliknya.
   "Oma? Oma ngapain? Udah biarin tukang kebun aja yang bersihin rumputnya, oma itu harusnya istirahat aja didalam. Yuk biar Kelsi antar oma kekamar."
   Sambil berusaha berdiri dari tempat duduknya. "Kan kasihan Kel kalau harus pak Somad terus yang beresin kebunnya, selagi oma masih bisa, biar oma saja yang bersihin."
   Dengan tersenyum Kelsi mendekatkan wajahnya ke wajah neneknya. "Oma, ini bukan masalah kasihan atau tidak, oma itu butuh istirahat."
   Setelah mendengarkan perkataan yang menurutnya benar dari cucunya, nenek itu pun pergi ke kamarnya.
   Rumah itu besar, besar bagaikan istana. Apa pun yang diinginkan selalu ada di dalam rumah itu. Wajar saja, Kelsi adalah cucu  dari seorang pengusaha interior terkenal di Jakarta. Dirumah, ia hanya tinggal bersama dengan neneknya yang sudah tua, sejak kecil ia tidak tahu siapa mama dan papanya. Dari dulu, hanya Omanya lah yang ia anggap sebagai keluarganya.
   Suatu ketika, Kelsi kecil bertanya kepada Omanya tentang siapa mama dan papanya. Tapi, Omanya hanya menjawab, 'mereka berada di luar negri untuk waktu yang sangat lama'.
   Hingga detik ini, ia tidak tahu siapa kedua orang tuanya.
   Kelsi kini tidak lagi kecil, kini ia sudah tumbuh menjadi seorang gadis cantik yang periang dan berprestasi. Tapi, dibalik semua keriangan dan prestasinya, ada sebuah kesedihan yang mendalam tentang orang tuanya.
   "Oma, hari ini Kelsi sudah menginjak usia 16 tahun, dihari ulang tahun Kelsi yang ke 16 ini, Kelsi punya dua permintaan. Pertama, Kelsi mau Allah mengizinkan Kelsi bertemu mama dan papa Kelsi, walaupun hanya sehari. Kedua, Kelsi ingin Allah memberi umur yang panjang kepada Oma, biar Oma selalu ada buat Kelsi."
   Dengan haru, Omanya meng-amini do'a cucunya tersebut.
   Dari tahun ke tahun, setiap hari ulang tahunnya, hanya dua do'a itulah yang ia panjatkan kepada Allah.
   "Oma, mama itu cantik kan? Kelsi pengen banget ketemu mama." Ucap gadis berambut panjang itu kepada omanya.
   "Iya sayang, mama kamu itu cantik kaya kamu. Matanya indah, rambut panjang, dan kulitnya putih bersih seperti kamu."
 
Flashback cerita mamanya.
   Siang itu Amira gelisah memikirkan masa depannya dan masa depan janin yang ada di dalam kandungannya.
   Rendi kekasihnya tiba-tiba pergi tanpa jejak setelah mengetahui kalau kekasihnya tengah hamil.
   Berkali-kali nomor itu dipanggilnya, tapi tidak ada sahutan dari nomor yang tengah dipanggilnya. Kesal, takut, dan sedih semuanya menjadi satu di dalam hatinya. Tak lama kemudian masuk sebuah pesan singkat di handphonenya. 'Bunuh janin itu, atau aku yang membunuhnya.' Begitulah kira-kira isi pesan singkat itu.
   Ia sudah tahu bahwa yang barusan mengiriminya pesan singkat itu adalah kekasihnya. Begitu tega dia fikirnya.
   Hari terus berlalu, waktu berputar sangat cepat. Hingga menginjak usia kehamilan yang ke 3 bulan, barulah ibunya menyadari kalau putri sematawayangnya tengah hamil muda. Saat itu Amara tengah berusia 20 tahun, sedangkan ibunya sudah 42 tahun usianya. Ibunya yang tak terima bahwa putri kesayangannya tengah hamil lantas mengintrogasi anaknya.
   "Gimana bisa sih Ra?! Mama ngedidik kamu untuk jadi anak yang baik-baik, hanya kamu yang mama dan papa andalkan untuk menhurus perusahaan papa."
   "Amara ga tau ma, Amara ga tau kenapa semuanya bisa begini?" Elak Amara.
   "Mama udah pernah bilang, lelaki itu lelaki ga bener! Gimana kalau papa kamu tahu Ra?!!" Ucap mamanya.
   Dengan tersedu-sedu Amara menjawab. "Ma, maafin Amara. Maafin juga Rendi, ini salah Amara. Bukan salah Rendi."
   "Bukan salah Rendi gimana? Jelas-jelas dia yang menghamili kamu! Sekarang kamu fikirkan saja sendiri nasib anak kamu nanti! Mama udah capek ngurusin kamu yang ga pernah dengerin kata-kata mama!"
   Dengan air mata yang sudah tak terbendung lagi, Mamanya pergi meninggalkan Amara yang masih tersedu-sedu.
   Beberapa bulan kemudian, usia kandungan Amara sudah menginjak usia 8 bulan. Mamanya tidak mengurusi Amara yang sedang hamil tua itu. Suatu ketika Amara yang sedang diluar kendali nekat untuk bunuh diri dengan melompat ke sungai dekat rumahnya. Karena di ketahui oleh tetangganya,  ia pun mengurungkan niat itu. Sejak mamanya tidak mengurusinya lagi, Amara-pun tinggal di rumah temannya di daerah Bandung.
    Usia kandungan Amara-pun tengah menginjak usia 9 bulan. Rasa sakit diperutnya tidak tertahankan lagi. Saat itu waktu menunjukan pukul 19.50 WIB, saat itu Gisel, teman Amara, sedang tidak ada dirumah. Amara merasa sangat kesakitan. Perutnya serasa diguncangkan. 50 menit menahan rasa sakit yang ada diperutnya, Amara berhasil melahirkan seorang bayi perempuan cantik. Setiap manusia mempunyai batas dalam menahan rasa sakitnya. Begitu juga Amara, pendarahan hebat terjadi setelah dia berhasil melahirkan putrinya. Hingga beberapa menit setelah dia melihat tubuh kecil putrinya, ia menghembuskan nafas terakhirnya.
Kelahiran Kelsi.
   "Aaaaaaaaaaa!!!! Jerit suara itu kencang ketika melihat tubuh Amara tergeletak kaku di atas kasur kecil itu.
   Seketika Gisel mengambil seorang bayi mungil yang masih tergeletak sambil menangis kecil di bawah kaki Amara. Sambil berusaha mengambil telepon genggamnya, Gisel berusaha melap bayi mungil itu dengan kain di lemarinya.
   Ditekannya tuts handphone itu beberapa kali. "Hallo, tante Helma. Ini Gisel te." Dengan suaranya yang tersedu.
   Dijawabnya telpon itu dengan nada ketakutan. "Iya, ada apa Gisel malam-malam begini?"
   "Amara tante, Amara!"
   "Ada apa dengan anak itu?" Tanyanya dengan nada penasaran mendengar nama anaknya disebut-sebut dalam percakapan mereka berdua tadi.
   "Amara sudah melahirkan, anaknya selamat. Tapi." Seketika suara Gisel diseberang saluran telepon itu hening.
   "Hallo Gisel, tapi kenapa? Kenapa dengan Amara?" Tanyanya tambah penasaran.
   "Amara meninggal te, Amara te." Suara Gisel diseberang telepon itu makin terisak.

   Dengan pucat, mamanya menjatuhakn telepon yang digenggamnya.
***
  .

0 komentar:

Posting Komentar