1
Minggu siang itu tampak lebih
cerah dari hari-hari sebelumnya. Burung-burung kecil asyik bermain mengepakkan
sayap kecilnya. Sinar matahari yang menyinari siang itu amatlah pekat. Dibawah
pohon mangga rindang itu terlihat seorang nenek berumur sekitar 65tahunan
dengan tampak rambut putih dikepalanya sedang mencabuti rumput liar yang tumbuh
dibawahnya. Bermodalkan gunting rumput, nenek itu terus mencabuti rumput segar
yang mengganggu pertumbuhan pohon mangga miliknya.
"Oma? Oma ngapain? Udah biarin
tukang kebun aja yang bersihin rumputnya, oma itu harusnya istirahat aja
didalam. Yuk biar Kelsi antar oma kekamar."
Sambil berusaha berdiri dari tempat
duduknya. "Kan kasihan Kel kalau harus pak Somad terus yang beresin
kebunnya, selagi oma masih bisa, biar oma saja yang bersihin."
Dengan tersenyum Kelsi mendekatkan
wajahnya ke wajah neneknya. "Oma, ini bukan masalah kasihan atau tidak,
oma itu butuh istirahat."
Setelah mendengarkan perkataan yang
menurutnya benar dari cucunya, nenek itu pun pergi ke kamarnya.
Rumah itu besar, besar bagaikan
istana. Apa pun yang diinginkan selalu ada di dalam rumah itu. Wajar saja,
Kelsi adalah cucu dari seorang pengusaha
interior terkenal di Jakarta. Dirumah, ia hanya tinggal bersama dengan neneknya
yang sudah tua, sejak kecil ia tidak tahu siapa mama dan papanya. Dari dulu,
hanya Omanya lah yang ia anggap sebagai keluarganya.
Suatu ketika, Kelsi kecil bertanya
kepada Omanya tentang siapa mama dan papanya. Tapi, Omanya hanya menjawab,
'mereka berada di luar negri untuk waktu yang sangat lama'.
Hingga detik ini, ia tidak tahu
siapa kedua orang tuanya.
Kelsi kini tidak lagi kecil, kini
ia sudah tumbuh menjadi seorang gadis cantik yang periang dan berprestasi.
Tapi, dibalik semua keriangan dan prestasinya, ada sebuah kesedihan yang
mendalam tentang orang tuanya.
"Oma, hari ini Kelsi sudah
menginjak usia 16 tahun, dihari ulang tahun Kelsi yang ke 16 ini, Kelsi punya
dua permintaan. Pertama, Kelsi mau Allah mengizinkan Kelsi bertemu mama dan
papa Kelsi, walaupun hanya sehari. Kedua, Kelsi ingin Allah memberi umur yang
panjang kepada Oma, biar Oma selalu ada buat Kelsi."
Dengan haru, Omanya meng-amini do'a
cucunya tersebut.
Dari tahun ke tahun, setiap hari
ulang tahunnya, hanya dua do'a itulah yang ia panjatkan kepada Allah.
"Oma, mama itu cantik kan?
Kelsi pengen banget ketemu mama." Ucap gadis berambut panjang itu kepada
omanya.
"Iya sayang, mama kamu itu
cantik kaya kamu. Matanya indah, rambut panjang, dan kulitnya putih bersih
seperti kamu."
Flashback cerita mamanya.
Siang itu Amira gelisah memikirkan
masa depannya dan masa depan janin yang ada di dalam kandungannya.
Rendi kekasihnya tiba-tiba pergi
tanpa jejak setelah mengetahui kalau kekasihnya tengah hamil.
Berkali-kali nomor itu dipanggilnya,
tapi tidak ada sahutan dari nomor yang tengah dipanggilnya. Kesal, takut, dan
sedih semuanya menjadi satu di dalam hatinya. Tak lama kemudian masuk sebuah
pesan singkat di handphonenya. 'Bunuh janin itu, atau aku yang membunuhnya.'
Begitulah kira-kira isi pesan singkat itu.
Ia sudah tahu bahwa yang barusan
mengiriminya pesan singkat itu adalah kekasihnya. Begitu tega dia fikirnya.
Hari terus berlalu, waktu berputar
sangat cepat. Hingga menginjak usia kehamilan yang ke 3 bulan, barulah ibunya
menyadari kalau putri sematawayangnya tengah hamil muda. Saat itu Amara tengah
berusia 20 tahun, sedangkan ibunya sudah 42 tahun usianya. Ibunya yang tak
terima bahwa putri kesayangannya tengah hamil lantas mengintrogasi anaknya.
"Gimana bisa sih Ra?! Mama
ngedidik kamu untuk jadi anak yang baik-baik, hanya kamu yang mama dan papa
andalkan untuk menhurus perusahaan papa."
"Amara ga tau ma, Amara ga tau
kenapa semuanya bisa begini?" Elak Amara.
"Mama udah pernah bilang,
lelaki itu lelaki ga bener! Gimana kalau papa kamu tahu Ra?!!" Ucap
mamanya.
Dengan tersedu-sedu Amara menjawab.
"Ma, maafin Amara. Maafin juga Rendi, ini salah Amara. Bukan salah
Rendi."
"Bukan salah Rendi gimana?
Jelas-jelas dia yang menghamili kamu! Sekarang kamu fikirkan saja sendiri nasib
anak kamu nanti! Mama udah capek ngurusin kamu yang ga pernah dengerin
kata-kata mama!"
Dengan air mata yang sudah tak
terbendung lagi, Mamanya pergi meninggalkan Amara yang masih tersedu-sedu.
Beberapa bulan kemudian, usia
kandungan Amara sudah menginjak usia 8 bulan. Mamanya tidak mengurusi Amara
yang sedang hamil tua itu. Suatu ketika Amara yang sedang diluar kendali nekat
untuk bunuh diri dengan melompat ke sungai dekat rumahnya. Karena di ketahui
oleh tetangganya, ia pun mengurungkan
niat itu. Sejak mamanya tidak mengurusinya lagi, Amara-pun tinggal di rumah
temannya di daerah Bandung.
Usia kandungan Amara-pun tengah
menginjak usia 9 bulan. Rasa sakit diperutnya tidak tertahankan lagi. Saat itu
waktu menunjukan pukul 19.50 WIB, saat itu Gisel, teman Amara, sedang tidak ada
dirumah. Amara merasa sangat kesakitan. Perutnya serasa diguncangkan. 50 menit
menahan rasa sakit yang ada diperutnya, Amara berhasil melahirkan seorang bayi
perempuan cantik. Setiap manusia mempunyai batas dalam menahan rasa sakitnya.
Begitu juga Amara, pendarahan hebat terjadi setelah dia berhasil melahirkan
putrinya. Hingga beberapa menit setelah dia melihat tubuh kecil putrinya, ia
menghembuskan nafas terakhirnya.
Kelahiran Kelsi.
"Aaaaaaaaaaa!!!! Jerit suara
itu kencang ketika melihat tubuh Amara tergeletak kaku di atas kasur kecil itu.
Seketika Gisel mengambil seorang
bayi mungil yang masih tergeletak sambil menangis kecil di bawah kaki Amara.
Sambil berusaha mengambil telepon genggamnya, Gisel berusaha melap bayi mungil
itu dengan kain di lemarinya.
Ditekannya tuts handphone itu
beberapa kali. "Hallo, tante Helma. Ini Gisel te." Dengan suaranya
yang tersedu.
Dijawabnya telpon itu dengan nada
ketakutan. "Iya, ada apa Gisel malam-malam begini?"
"Amara tante, Amara!"
"Ada apa dengan anak
itu?" Tanyanya dengan nada penasaran mendengar nama anaknya disebut-sebut
dalam percakapan mereka berdua tadi.
"Amara sudah melahirkan,
anaknya selamat. Tapi." Seketika suara Gisel diseberang saluran telepon
itu hening.
"Hallo Gisel, tapi kenapa?
Kenapa dengan Amara?" Tanyanya tambah penasaran.
"Amara meninggal te, Amara
te." Suara Gisel diseberang telepon itu makin terisak.
Dengan pucat, mamanya menjatuhakn
telepon yang digenggamnya.
***
.



0 komentar:
Posting Komentar